PROSES PEMBENTUKAN OPINI PUBLIK MELALUI MEDIA MASSA
Menurut Cultip dan Center, terdapat 4 tahap terbentuknya opini publik, yaitu:
- Ada masalah yang perlu dipecahkan sehingga orang mencari alternatif pemecahan.
- Munculnya beberapa alternatif memungkinkan terjadinya diskusi untuk memilih alternatif.
- Dalam diskusi diambil keputusan yang melahirkan kesadaran kelompok.
- Untuk melaksanakan keputusan, disusunlah program yang memerlukan dukungan yang lebih luas.
Media mempengaruhi pandangan masyarakat dalam proses pembentukan opini atau sudut pandangnya. Karakteristik media massa seperti keberadaan khalayak yang luas, heterogen, dan penyebaran pesan yang cepat serta serentak menjadi alasan kuat media massa sebagai alat penyebaran suatu pesan secara luas dan terbentuknya suatu opini publik.
Usaha membentuk opini publik, media massa melakukan 3 kegiatan sebagai berikut:
- Pertama, menggunakan simbol-simbol politik (language of politic).
- Kedua, melaksanakan strategi pengemasan pesan (framing strategies).
- Ketiga, melakukan fungsi agenda media (agenda-setting function).
Media massa membawa kepentingan dari pihak tertentu. Melalui kontennya, media massa menyusupkan kepentingan dari kelompok tertentu untuk merebut perhatian publik. Dengan serangan informasi yang sama secara bertubi, media massa berusaha mempengaruhi sikap publik. Media massa juga memiliki pengaruh yang begitu kuat dalam kehidupan politik.
Media massa memiliki daya jangkau yang luas dalam menyebarkan informasi politik, bahkan mampu melewati batas wilayah, kelompok umur, jenis kelamin, dan status sosial-ekonomi. Dengan demikian, status politik yang dimediasikan akan menjadi perhatian bersama di berbagai tempat dan kalangan.
Dalam dunia politik, misalnya dalam pemilu, media media massa juga bisa di jadikan alat kepentingan dan propaganda untuk mendapatkan kekuasaan. Dalam teori analisis media, Louis Althusser mengemukakan tentang struktural Marxism yaitu media massa bagian dari aparatus idioligis negara. Media dan kekuasaan negara saling terkait. Tidak hanya dengan negara, media massa dalam kancah politik bisa saja menyajikan berita yang memihak. Tentu saja dalam pemberitaannya, Metro TV tidak akan lepas dengan sosok Surya Paloh, atau TV One dengan Bakrie. Kepemilikan media oleh elit politik inilah yang menjadikan media massa tersebut sebagai alat propaganda pemiliknya dalam kepentingan politiknya.
Kaitannya dengan teori Agenda Setting, media massa memiliki fungsi agenda setting. Media massa memiliki hak untuk menyiarkan suatu peristiwa atau tidak menyiarkannya. Sehingga media massa mampu menggiring opini publik dalam suatu diskusi. Output dari diskusi inilah yang akan menentukan agenda-agenda dalam politik pemerintahan, dengan cara mengangkat sebuah isu seolah-olah penting untuk dimunculkan sebagai opini publik. Media massa melakukan setting berita untuk diwacanakan penting, yang akhirnya bisa mempengaruhi masyarakat dan sependapat, dengan mudah saja mengikuti dan menyetujui apa yang disampaikan dalam media massa. Media massa membuat penting isu-isu yang diangkat walaupun tak sepenuhnya dibutuhkan oleh masyarakat. Dengan demikian masyarakat seolah membutuhkan pesan dan informasi yang pada akhirnya mengubah pemikiran dan bahkan kebudayaan dalam masyarakat tersebut.
Dan bagaimana dengan media yang dijadikan sarana untuk memperkuat pernyataan yang dilontarkan seseorang (Hot issue public) untuk berubah menjadi pendapat umum yang berkembang, sebagaimana dalam menjalankan fungsi media Amplifikasi dalam opini publik namun issue tersebut tidak memiliki nilai informatif atau edukatif?
Salah satu fungsi media dalam opini publik yaitu Amplifikasi, yang dimana media dijadikan sarana untuk memperkuat pernyataan yang dilontarkan seseorang untuk berubah menjadi pendapat umum yang berkembang. Media saat ini tengah berlomba-lomba menyajikan isu yang menarik, unik, up to date dan kontroversial. Terkadang, isu yang diangkat pun tidak begitu memiliki nilai yang informatif dan edukatif. Jika terdapat media yang seperti itu, maka dapat kita asumsikan bahwa media itu tidak pernah netral. Karenanya dibutuhkan sejumlah usaha untuk mendekonstruksi isi/berita suatu media dengan menggunakan metodologi:
- analisis isi (content analysis),
- analisis kerangka (frame analysis),
- analisa wacana kritis (critical discourse analysis), dan
- analisa pengaturan agenda (agenda-setting analysis).
Selain itu, publik juga harus bisa memilah-milah pesan dan informasi yang dibutuhkan dan memiliki nilai informatif serta edukatif.
Contohnya adalah pemberitaan tentang gossip public figure, biasanya media menampilkan gossip tentang kehidupan public figure tersebut yang tidak memiliki nilai informatif dan edukatif karena agar mendapatkan nilai rating yang tinggi dari masyarakat tanpa memikirkan nilai-nilai moral yang ada.
Sumber:
http://eprints.umm.ac.id/25582/2/jiptummpp-gdl-arbhiszeno-36457-2-babi.pdf
http://journal.uml.ac.id/PF/article/view/143
Comments
Post a Comment